Alasan Google Ingin Berpikir Seperti Manusia Daripada Seperti Mesin

Alasan Google Ingin Berpikir Seperti Manusia Daripada Seperti Mesin

Google tidak secerdas itu. Biar lebih pintar, hingga programer serta insinyur di Google wajib dapat lebih menguasai apa yang terjalin di otak orang kala mereka mau membenarkan algoritme mesin pencarian mereka. Serta inilah alibi mereka memohon dorongan akademikus saraf.

Pemahaman Otak

Orang mempunyai keahlian luar lazim dalam mengolah bahasa apalagi yang samar banget juga. Apalagi satu perkataan simpel dengan perkata yang tertata bagus juga mempunyai pemahaman yang beraneka ragam.

Misalnya, ikuti perkataan bahasa Inggris ini: “time flies like an arrow” dapat berarti“ coba Kamu jumlah durasi melambung laler semacam Kamu membagi durasi melambung anak panah”, ataupun “durasi melambung begitu juga anak panah melambung”. Sedang banyak lagi mungkin lain.

Kamu dapat menguasai kalau pilihan- pilihan arti ini seluruh bisa jadi namun Kamu hendak memilah pemahaman yang sangat biasa “durasi beranjak kilat semacam seperti anak panah”. Gimana Kamu melaksanakannya?

Menguasai bahasa merupakan satu ilustrasi dari usaha komputasi luar lazim yang kamu jalani dikala ini, tanpa Kamu mengetahuinya.

Keahlian yang lain? Menguasai lukisan. Tiap lukisan 2 format di retina Kamu dapat saja diperoleh dari acak panorama alam 3 format. Tiap pinggiran dapat jadi merupakan bagian dari sebagian subjek berlainan, ataupun dapat saja cuma ketidaksempurnaan (noise) di lukisan. Namun Kamu nyaris senantiasa dapat menebaknya dengan pas.

Satu ilustrasi yang susah merupakan merelaikan subjek dari latarnya, apalagi kala sketsanya (dengan begitu garis batasnya) amat tidak jelas, serta objeknya ialah wujud kompleks, yang sering terjalin pada lukisan kedokteran. Apalagi tanpa ‘noise’ dapat jadi susah untuk algoritme buat memilah mana yang berarti.

Terdapat lagi ilustrasi susah, ialah gambar-gambar tabrakan (adversarial images) yang didesain spesial buat mengelabui algoritme pandangan pc, walaupun orang tidak mempunyai permasalahan dengan lukisan itu.

Algoritme serta program pc dikala ini lagi berupaya membandingi keahlian orang dalam menguasai bahasa serta mengerjakan lukisan visual.

Namun Google serta industri teknologi lain mau lebih bagus dalam perihal ini, buat meningkatkan produk mereka serta keahlian mereka buat memeras pola statistik dari beberapa informasi besar.

Teknologi Memerlukan Ilmu Saraf

Seperti itu alibi mereka merekrut banyak orang dari area ilmu saraf mengakulasi daya yang menguasai gimana otak biologis melaksanakan komputasi.

Misalnya, dini tahun ini Memburu merekrut Zoubin Ghahramani, ahli di aspek penataran mesin (machine learning) serta mantan akademikus saraf, buat jadi akademikus penting mereka.

Demis Hassabis, penggagas start- up DeepMind (setelah itu dibeli Google dengan harga lebih dari£400 juta) yang pula mempunyai kerangka balik dalam pemrosesan saraf, pula baru-baru ini membanggakan kalau beliau terkini saja merekrut pekerja dari aspek ilmu saraf.

Ini cuma ilustrasi dari kasus- kasus terkenal; terdapat yang lain yang dipekerjakan dari posisi PhD serta pascadoktoral yang tidak masuk informasi besar. Studi di aspek artificial intelligence di Google mulai membuktikan hasil, dengan melonjaknya jumlah postingan yang diterbitkan di harian akademis.

Berasumsi Biologis

Otak biologis bertugas dengan metode serupa banget berlainan dengan pc. Otak kita bertugas paralel, memakai daya dari beberapa besar bagian yang relatif simpel serta lelet dengan cara berbarengan. Tiap neuron tersambung dengan neuron yang lain alhasil di dalam otak orang terdapat dekat sejuta miliyar koneksi.

Sedangkan itu, pc digital melakukan perihal satu per satu, tetapi dengan amat kilat. Apalagi yang diucap selaku pc paralel juga sesungguhnya membagi permasalahan jadi kepingan-kepingan kecil, namun tiap potongan senantiasa saja mengaitkan banyak tahap yang dicoba terpisah.

Komputasi paralel yang mendekati otak dapat disimulasi di pc digital. Memanglah, penataran mendalam (deep learning) merupakan tata cara buat mesin berlatih dari beberapa besar informasi yang sebelumnya diilhami ilmu saraf, serta ini merupakan materi penting dari algoritme Google.

Namun di pc digital perihal ini membutuhkan daya besar, sedangkan otak orang memakai daya yang lebih kecil dari yang diperlukan suatu bohlam lampu.

Dengan cara berbarengan, wawasan kita mengenai otak sendiri lagi ditransformasi oleh teknologi terkini. Ini tercantum tata cara terkini buat merekam kegiatan saraf rasio besar pada neuron tunggal.

Pada orang, metode non- invasif semacam functional magnetic resonance imaging (fMRI) merata-ratakan aktivistas dari puluhan ribu neuron. Tetapi pada bentuk fauna, saat ini dimungkinkan buat men catat neuron dengan indikator fluoresens yang hendak bercahaya lebih jelas dikala neuronnya aktif.

Memakai tipe terkini pemakaian kaca pembesar membolehkan kita buat memandang tiap neuron dalam satu area yang lebih besar, kadang kala apalagi dalam totalitas otak, dikala bertugas bersama buat menuntaskan permasalahan.

Metode ilmu saraf semacam ini hendak merevolusi uraian kita hendak gimana otak biologis melaksanakan komputasi yang luar lazim.

Pengetahuan terkini ini hendak menolong mendesak inovasi terkini dalam algoritme yang menghela perusahaan- perusahaan teknologi, dengan mengatakan trik-trik komputasi yang dipakai hayati buat senantiasa berakal saing.

Algoritme beangsur- angsur hendak membolehkan pc berasumsi terus menjadi mendekati orang. Namun begitu juga ditunjukkan oleh AlphaGo, khianat mengenai berapa lama durasi yang diperlukan PC buat menggapai kemampuan tingkat orang (ataupun orang luar biasa) buat melakukan kewajiban khusus sering kali salah.